(021) 424 7129 | Cempaka Putih Indah 100A, Jembatan Serong, Rawasari Jakarta 10520

Jun 16, 2017 1948times

Driyarkara Merenungkan Pancasila

Rate this item
(1 Vote)

Pemikiran mengenai Pancasila menjadi warisan Nicolaus Driyarkara SJ bagi bangsa Indonesia. Pancasila sebagai humanisme religius-sosialistis.Pastor Nicolaus Driyarkara SJ diundang menjadi pembicara saat digelar seminar tentang Pancasila di Yogyakarta, 16-20 Februari 1959. Bersama Prof Dr Prijono, Ruslan Abdulgani, Muhammad Yamin, dan Prof Notonegoro, Driyarkara mengkaji Pancasila. Driyarkara membedah Pancasila dengan kacamata akademissistematis, yakni filsafat manusia.Kala itu, ia merefleksikan hakikat Pancasila sebagai dalil-dalil filosofis. Bagi Rektor Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Sanata Dharma Yogyakarta saat itu, sebagai dalil-dalil filosofis, Pancasila adalah rumusan realitas dasar manusia yang ada bersama cinta kasih. Tentunya bila dipandang secara keseluruhan dan keterkaitan antarsila.



Titik tolaknya adalah filsafat manusia yang memandang keberadaan manusia di dunia sebagai pribadi (persona). Karena manusia berada di dunia, maka dunia diartikan sebagai kondisi eksistensial. Dalam dunia, manusia terhubung dengan alam jasmani dan manusia lain, serta hal itu dipahami dalam hubungannya dengan Yang Mutlak.Ketiga hubungan itu merupakan kesatuan berdasar cinta kasih dari dan kepada Tuhan. Cinta kasih itu bukanlah rasa romantis sesaat, tetapi pengertian yang muncul dari pengalaman mendalam dan bila disadari betul dapat membentuk diri dan yang lain: cinta yang menyempurnakan. Cinta kasih ini primer dalam hidup manusia, dan dari sini, dapat dilihat kait-mengait antarsila, yang akhirnya sila Ketuhanan sebagai dasar semua sila.

Antarsila,

Driyarkara membawa hal ini dalam refleksi akan Pancasila, dengan bertitiktolak dari sila kedua: sila perikemanusiaan menunjukkan realitas yang dialami manusia sebagai ada bersama dengan cinta kasih, yaitu menghormati, menjunjung tinggi sesama manusia, setiap manusia, segala manusia. Sila keadilan sosial sebagai isi dari perikemanusiaan itu sendiri, yaitu membuat, memiliki, dan menggunakan barang-barang dunia yang berguna sebagai syarat, alat, perlengkapan hidup secara bersama-sama. Sementara, sila demokrasi sebagai bentuk perikemanusiaan, yaitu mengadakan kesatuan-karya dengan saling menghormati dan menerima sesama sebagai pribadi dengan segala hak dan kewajibannya. Sila kebangsaan sebagai spesifikasi perikemanusiaan, yaitu kesatuan dalam hidup menegara yang saling membantu memperkembangkan unsur-unsur yang beragam. Dan sila ketuhanan merupakan dasar dari semua sila, yaitu menyadari keterbatasan diri, ketidaksempurnaan diri dalam hidup sehari-hari.Implikasi dari kelima sila ini cukup besar, karena ide-ide asasi yang terkandung dalam tiap sila bersifat universal. Maka, Pancasila yang merupakan dalil-dalil filosofis bersifat universal, yang juga dapat diterima semua orang. Rumusan filsafat manusia berdasarkan Pancasila ini akan menjadi pendirian hidup (Weltanschauung) apabila dilakukan dengan kesungguhan hati.

Bukan negara agama
Sebagai dasar negara, Pancasila, menurut Driyarkara memiliki arti khusus bagi bangsa ini. Artinya, masyarakat di luar Indonesia tidak dapat menjadikan Pancasila sebagai dasar negaranya, karena tidak terikat dengan ketentuan Undang-Undang Dasar (UUD).Menurut Driyarkara, sebagai dasar negara, Pancasila memiliki pendirian yang tetap. Pancasila menjadi alasan negara ini berdiri. Pancasila bagai kompas yang menunjuk ke mana bangsa ini melangkah. Tapi, kompas itu tidak menyajikan rincian praktis, sehingga Pancasila dapat disebut sebagai ideologi terbuka.Karena Pancasila adalah dasar negara, maka ia menjadi dasar hidup berbangsa, bermasyarakat, serta bernegara. Artinya, ia menuntut sikap hidup, baik bersama maupun pribadi. Secara lebih luas, karena dasar negara berhubungan dengan UUD 1945, Driyarkara menegaskan, tujuan yang tercantum pada UUD 1945 adalah kesejahteraan bersama, dan kesejahteraan ini dasarnya adalah ketuhanan. Maka negara yang berdasarkan Pancasila bukan negara agama atau negara profan, tetapi negara yang mengutamakan kesejahteraan umum, dengan tetap menghargai kesucian hidup yang mengarah pada Tuhan. Pemilahan wilayah antara agama dan negara memang diperlukan dalam gerak tersebut.

Refleksi Pancasila
Pada 1966, Driyarkara kembali merefleksikan Pancasila. Pada tahun itu, ia lebih banyak melihat hubungan Pancasila dengan kehidupan sehari-hari. “Hubungan Pancasila dan hidup ada bila Pancasila merupakan pedoman. Karena hidup dilaksanakan dengan dan dalam macam-macam perbuatan, maka pedoman itu harus merupakan pedoman perbuatan sehari-hari.” (Karya Lengkap Driyarkara, hlm. 881)Sebagai pedoman perilaku seharihari, ia menunjukkan sikap-sikap umum yang diterangi sila-sila dan cita-cita yang diarah. Ia menunjukkan bahwa sikap global yang dituntut Pancasila adalah humanisme religius-sosialistis, bentuk penghargaan terhadap manusia yang tidak meniadakan Tuhan ataupun tidak meniadakan manusia. Dengan terang itu, Driyarkara mengurai sikap-sikap yang diterangi masing-masing sila.

Sila ketuhanan yaitu mengakui kedaulatan Tuhan, menyerahkan diri, dan mengabdi untuk Tuhan. Pengabdian dilakukan melalui perbuatan dan toleransi kebebasan pada human person. Sila kemanusiaan, mengakui martabat, hak asasi, dan kebebasan manusia. Sila kebangsaan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individual. Masyarakat wajib melaksanakan tugas sesuai dengan peran dan tanggungjawabnya masing-masing.Sila demokrasi wajib memperlakukan sesama sebagai partner kerja. Antarmasyarakat berani mengkritik dan menyatakan mana yang benar dan salah. Sila keadilan sosial mengakui dan mengangkat sesama sebagai socius dan alam budaya yang merupakan bagian dari diri manusia.Namun, bila dilihat dari kacamata filsafat politik, uraian Driyarkara mengenai Pancasila menjadi kurang tepat. Karena pada dasarnya Pancasila sebagai dasar negara adalah prinsip politik. Sebagai prinsip politik, ia harus menciptakan dan mengondisikan semua aspek kehidupan di dalam suatu negara yang akan dibentuk, bukan prinsip kodrat manusia. Tapi, sumbangan berharga dari refleksi Driyarkara ini memperkaya pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Hal ini dapat menjadi orientasi dan penunjuk bagi pranata kenegaraan dan kebijakan publik, serta bagi warga bangsa ini.

Bernardus Christian Yudo SJ
Sumber  http://www.hidupkatolik.com

Mengapa Driyarkara Dikenang?

Romo Nicolaus Driyarkara (1913-1967) dikenang; ia harus dikenang dan harus selalu dikenang. Mengapa demikian? Driyarkara itu ahli filsafat. Ia menuliskan gagasan-gagasan filsafatnya. Tetapi sebagaimana opini yang disampaikan beberapa ahli filsafat sekarang Driyarkara memang seorang pribadi dan guru yang istimewa, namun sebenarnya bukan filsuf yang orisinil. Memang orang beranggapan bahwa filsafat itu abadi, tidak akan lekang digerus waktu. Dengan demikian Driyarkara sebagai ahli filsafat harus dikenang lagi dan lagi. Meski demikian, lagi-lagi, orang tidak akan menemukan terlalu banyak ide-ide filsafatnya yang utuh, menyeluruh dan sistematik.

Para ahli berpendapat, pemikiran-pemikirannya yang relatif orisinil ditemukan dalam filsafatnya mengenai Pancasila dan pendidikan. Lalu mengapa ia harus selalu dikenang? Dikenang, karena tahun ini (2013) Driyarkara berumur satu abad. Tetapi lebih dari itu, ia harus selalu dikenang untuk mereka yang dalam hidupnya mau berpikir serius dalam keterlibatan dengan dinamika zamannya. Yang harus dikenang dengan demikian tidak saja isi pemikirannya. Yang jauh lebih menarik adalah proses metode berpikirnya. Metodologi berfilsafat Driyarkara itulah yang selalu aktual dan pantas untuk selalu dikenang.

Driyarkara dalam hidupnya membaca dan mendalami para pemikir besar. Dengan serius ia menggali, mengupas selapis demi selapis, dan merumuskan substansi buku dari banyak aliran pemikiran universal yang ia baca, tetapi pada saat yang sama, ia menggumuli persoalan lokal bangsa Indonesia. Ia menelusuri sejarah dan akar-akar terbentuknya bangsa ini. Setiap pemikiran dan ideologi yang menyumbangkan konstruk bangsa ini dipelajari dan dicerna. Cara studi dengan dua tahap tetapi dalam satu tarikan napas ini menjadi ciri khas cara berpikir Driyarkara. Dari sana mengalirlah pemikiran-pemikiran yang dituliskannya.

Proses kognitif Driyarkara bisa dirumuskan dengan cara simplistis demikian: “100 persen berpikir, 100 persen terlibat”. Tetapi, jalur berpikir ini mengandung risiko dan bahaya. Karena dunia ideal tidak selalu bisa diselaraskan dengan dunia real. Gampangnya, apa yang dipikirkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Di bawah konteks Indonesia ‘pertengahan 1960-an’, sakit fisik Driyarkara menjadi semakin buruk oleh penderitaan batin melihat kondisi material dan psikologis bangsanya. Apa yang diperjuangkan lewat pemikiran-pemikirannya dilindas oleh ideologi lain. Pada titik kritis ini, secara kreatif meski tetap dengan perjuangan besar, ia membawa hidupnya untuk melampaui dan mengatasi jalur berpikir dan terlibat. Ia menyadari kegagalan atas semua yang diperjuangkan. Tetapi ia melihat ini semua bukan kegagalan manusiawi. Ia menanggung yang disebut ‘kegagalan demi Kerajaan Allah’. Paradoksnya, ia justru merayakan semua kegagalan itu dalam iman.

Ketika Driyarkara merayakan ‘kegagalan demi Kerajaan Allah’ kita menjadi tahu bahwa ia adalah manusia yang berpikir, bertindak dan sekaligus beriman. Untuk itulah Driyarkara harus selalu dikenang.

Penulis : Bernadus Christian Yudo SJ
Sumber: http://www.hidupkatolik.com

Last modified on Monday, 31 July 2017 01:44
Go to top
Template by JoomlaShine