Ex Philosophia Claritas
Out of Philosophy Clarity

Community

NEWS

Webinar Jurnal Filsafat Driyarkara: “Prinsip-Prinsip Etis Thomas Aquinas dalam Bioetika Kontemporer”

TERAKHIR DITULIS

16 November 2021

KOMUNITAS: MAHASISWA

Sabtu, 30 Oktober 2021, tim Jurnal Driyarkara mengadakan webinar berjudul “Prinsip-Prinsip Etis Thomas Aquinas dalam Bioetika Kontemporer”. Webinar diadakan dalam rangka mempromosikan Jurnal Driyarkara edisi “Thomas Aquinas dan Bioetika Kontemporer”. Tujuan lainnya adalah sebagai wadah tempat para pencinta kebijaksanaan berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait masalah bioetika. Pembicara dalam webinar ini adalah Dr. Heribertus Dwi Kristanto. Sekilas mengenai riwayat pendidikan Dr. Dwi, setelah menamatkan S1 Filsafat di STF Driyarkara, beliau melanjutkan S1 Teologi di Universitas Gregoriana Roma. Di tempat yang sama Dr. Dwi mengambil S2 Filsafat dan menyelesaikannya pada tahun 2012. Setelah kembali ke STF dan mengajar selama setahun, beliau diutus untuk mengambil doktoral di Gregoriana juga dan menyelesaikannya pada tahun 2019. Sejak itu, Dr. Dwi menjadi pengajar tetap di STF Driyarkara dan mengampu mata kuliah Filsafat Sejarah, Etika, dan Sejarah Filsafat Abad Pertengahan. Salah satu artikel yang beliau tulis diterbitkan dalam jurnal The Thomist vol. 84/2 tahun lalu berjudul “Aquinas on Shame, Virtue, and The Virtuous Person”. Tak hanya itu, disertasi beliau telah dibukukan pula menjadi The Praiseworthy Passion of Shame. An Historical and Philosophical Elucidation of Aquinas’s Thought on the Nature and Role of Shame in the Moral Life (Roma: Gregorian & Biblical Press, 2019).

Webinar dimoderatori oleh Arif Kelabur, mahasiswa semester lima. Dalam sesi pertama, Dr. Dwi memperkenalkan tokoh Thomas Aquinas (1225-1274) dan pemikirannya tentang etika kristiani, yakni tentang bagaimana orang kristiani hidup secara bermoral agar mencapai tujuan ter­akhir hidupnya, yaitu kebahagiaan yang sempurna. Tentu saja, dalam tu­lisan-tulisan tersebut kita tidak dapat menemukan istilah ‘bioteknologi’, ‘klon­ing’, ‘eutanasia’, ‘sel punca’ (stem cells) atau ‘aborsi’. Dr. Dwi ingin mengaitkan pemikiran Aquinas dengan bioetika kontemporer yang mana pemikirannya yang merujuk pada Aristotelianisme ternyata belum usang untuk menanggapi persoalan bioetika dewasa ini. Selain itu, beliau juga berusaha menjawab keraguan mengenai apakah pemikiran Aquinas cukup filosofis dalam arti tidak hanya bertopang pada teologi kristiani sehingga dapat didiskusikan oleh semua orang.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan salah satu pertanyaan menarik muncul dari dr. Enrico A. Rinaldi mengenai bagaimana menyikapi permintaan pasien yang meminta eutanasia (hukum di Indonesia belum jelas mengatur hal ini) dalam tegangannya dengan sumpah dokter yang mengharuskan dokter menjaga nyawa pasien. Seorang penanya lain bernama Joshua menanyakan posisi hukuman mati. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditanggapi dengan jelas oleh Dr. Dwi dengan berdasar pada arti martabat manusia. Harapannya webinar ini dapat semakin membuka diskusi mengenai bioetika di Indonesia yang masih jarang dibicarakan secara umum.

BERITA LAINNYA

REGISTRATION DEPARTMENT

Nearly 95% of International Students Driyarkara Philosophy High School recommends to other students to study Philosophy at our place.