(021) 424 7129 | Cempaka Putih Indah 100A, Jembatan Serong, Rawasari Jakarta 10520

Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) didirikan sejak 11 November 2017 untuk para alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang merupakan komunitas intelektual dan telah menjadi bagian dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

 

IKAD berasaskan Pancasila, bersifat kekeluargaan, berorientasi pada pengabdian masyarakat dan Alma Mater, dengan tujuan:

  1. Memperkuat ikatan persaudaraan antar alumnus STF Driyarkara
  2. Bersama STF Driyarkara, mengembangkan pemikiran kritis, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap keadilan dan kemanusiaan
  3. Berperan aktif dalam perjuangan mewujudkan kondisi manusia dan tata dunia yang lebih sehat.
  4. Menjaga dan memelihara integritas Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara sebagai Alma Mater

 

Silahkan mengisi Formulir Pembaharuan Data Alumni STFD untuk menerima informasi lebih lanjut.

 

Media Sosial IKAD

https://www.facebook.com/ikadriyarkara

https://fb.me/alumnidriyarkara

 

 

Logo IKAD dirancang oleh RD Simon Petrus Lili Tjahjadi (Ketua STF Driyarkara tahun 2011-2015 dan tahun 2015-2019), dan dibuat dalam bentuk grafis oleh Anita Lawudjaja (Alumni Prodi Magister Filsafat tahun 2014).

Logo tersebut memuat lambang STF Driyarkara sebagai alma mater dengan bentuk-bentuk geometris: a) lingkaran sempurna paling dalam, yang merupakan simbol dari inti dari sebuah perkara; b) oktagon sama sisi asimetris yang mengelilinginya, simbol dari pendekatan-pendekatan analitis (plural, tidak singular, maka terdapat dua buah), dan; c) lingkaran sempurna paling luar, simbol dari cara berpikir sintetis yang merangkum dan merangkul semua pendekatan sebelumnya atas inti perkara yang sedang dikaji itu, sehingga menjadi satu kesatuan pemikiran yang lebih luas dan utuh daripada sebelumnya.

Lambang simbolik tersebut memuat pesan, bahwa untuk memahami perkara yang sedang dihadapi, para alumni diminta untuk berpikir jernih dan mendalam hingga mencapai intinya melalui cara berpikir dialektis yang memuat kemampuan berpikir analitis dan sintetis, sebelum mengambil tindakan yang tepat.

Dalam logo juga terdapat sehelai pita bertuliskan frase bahasa Latin Homo Homini Socius (Manusia adalah Sahabat bagi Sesamanya) yang diambil dari perkataan Prof. N. Driyarkara pada orasinya sebagai Guru Besar bidang Psikologi pada Universitas Indonesia (1960). Perkataan ini melihat manusia secara positif sebagai makhluk berkodrat sosial yang pada gilirannya akan mendorongnya mengenal lingkungannya secara lebih baik (aspek pengetahuan), bertindak penuh solidaritas demi kesejahteraan bersama (aspek etis), dan dari situ menyongsong Tujuan Akhir hidupnya (aspek Ketuhanan Transendental).

Desain logo IKAD diterima sebagai logo resmi IKAD pada 13 Juni 2018, bertepatan dengan hari peringatan ulang tahun kelahiran Prof. Driyarkara yang ke-105.

Para Alumni STF Driyarkara yg baik,

Tahun 2019 yang akan datang, Alma Mater kita akan merayakan pesta emas (50 tahun) berdirinya. Ada banyak ide dibahas, dan rencana telah dibuat. Salah satunya adalah pertemuan para Alumni.

Untuk mengkomunikasikan semua, tapi terutama untuk kita saling berkomunikasi, database tentang masing-masing kita perlu dibuat. Hal ini penting, mengingat banyaknya anggota kita dan beranekanya bidang pengabdian kita di masyarakat. Dengan adanya database ini, kita berharap bisa memperoleh informasi penting untuk menjajagi kemungkinan-kemungkinan bagi kerjasama konkrit dan kegiatan berbuah lainnya di masa mendatang.

Maka atas nama Alma Mater, saya mengucapkan banyak terima kasih, bila Anda berkenan mengisinya, dan "menjaring" rekan-rekan lain untuk ikut mengisinya juga.

 

Salam Hangat,

Simon Petrus L. Tjahjadi

Ketua STF Driyarkara

 

 

*Link Pendaftaran Ikatan Keluarga Alumni STF Driyarkara daftar alumni DISINI

 

**Data alumni yang kami himpun saat ini akan digunakan terbatas untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Data Anda tidak akan disebarluaskan.

Kami menggunakan data anda untuk berbagai macam komunikasi mengenai promosi kegiatan, undangan kegiatan maupun pengumpulan dana melalui telepon, media sosial, dan aplikasi berkirim pesan seperti Whatsapp.

 

***Jangan lupa Facebook Alumni STF Driyarkara 

Jika ada saran yang membangun, silahkan sampaikan kepada kami (Nugi, Anita dan Hepi)

 

Hormat Kami,

Tim Koordinator Database Alumni STF Driyarkara

Sabtu, 5 Mei 2018 merupakan hari yang membahagiakan bagi seluruh civitas akademika STF Driyarkara. Setelah rangkaian acara Dies Natalis yang berjalan kurang lebih selama 5 bulan sejak bulan Januari 2018, akhirnya terselesaikan lewat acara puncak Malam Budaya. Malam Puncak Dies Natalis ke-49 yang mengangkat tema besar mengenai isu Teknologi ini, menampilkan teater rakyat dan juga pesta rakyat. Para pemain teater adalah mahasiswa dan mahasiswi STF Driyarkara sendiri. Selain drama dan pesta rakyat, ada pula pembagian hadiah pagi para pemenang-pemenang lomba yang diselenggarakan dalam rangkaian acara ini.


Bertempat di Auditorium STF Driyarkara, Puncak Dies Natalis ke-49 STF Driyarkara ini menampilkan teater dengan judul “Negeri Para Psikopat”. Teater yang disutradarai Yogie Pranowo ini merupakan sebuah adaptasi dari lakon Nabi Kembar karya Stavomir Mrozek. “Negeri Para Psikopat” mencoba menggambarkan situasi suatu negara yang terus menerus dirundung permasalahan tanpa henti dan orang-orang mencoba mendapatkan keadilan. Akan tetapi, yang terjadi adalah para pemimpin malah hidup bermewah-mewahan dan mencari jalan keluar dengan cara mencari kambing hitam.


Taeter yang ditampilkan dengan iringan musik mini orchestra ini dihadiri kurang lebih 350 orang, yang terdiri dari para dosen, mahasiswa, maupun undangan-undangan lainnya. Acara ini selalu menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Tidak sedikit orang yang mencoba mendaftar untuk dapat menikmati pagelaran ini, tetapi karena keterbatasan tempat harus mengurungkan niatnya.


Dari fenomena yang ada, terlihat bahwa teater rakyat STF Driyarkara selalu ditungguh oleh banyak orang karena memiliki alur yang menarik dan tentu saja filosofis. Hal ini terlihat dengan banyaknya dialog yang menggunakan teori-teori filosofis yang dikemas secara sederhana tetapi seperti memberikan pencerahan kepada pendengarnya. Tidak ketinggalan Malam Budaya kali ini juga menampilkan bintang tamu muda, Dityo Bramantyo, seorang Bassis muda lulusan Australia. Permainan bass solonya seperti menghipnotis orang-orang yang hadir.


Setelah teater rakyat selesai, acara tidak begitu saja selesai. Acara dilanjutkan dengan makan bersama dan pesta rakyat yang bertempat di lapangan STF Driyarkara. Sembari menikmati makanan yang ada, para mahasiswa maupun tamu-tamu undangan dipersilakan menyanyikan lagu atau menampilkan sesuatu di panggung. Suasana kekeluargaan sekaligus kegembiraan tidak bisa dihindarkan. Lagu-lagu Reggae hingga lagu-lagu pop populer terlantun di dalam pesta rakyat ini. Tidak ketinggalan goyangan dan tarian dari para penonton yang sangat antusias.


Acara diselesaikan dengan kegembiraan dan kesan yang begitu mendalam. Kalau kata orang para filsuf itu kolot dan kaku, tampaknya tidak terbuktikan dengan acara Malam Budaya ini. Hal yang ada justru sebaliknya, kekritisan daya pikir membawa kreativitas yang semakin mendalam dan kaya.

Screening Film dan Diskusi bersama Wregas Bhanuteja di STF Driyarkara
Oleh: Amadea Prajna, SJ


Pada Senin, 14 Mei 2018 di STF Driyarkara, Jakarta dilangsungkan acara screening film dan diskusi dengan narasumber utama sineas muda Indonesia Wregas Bhanuteja. Acara ini diselenggarakan oleh Sindikat Senen, sebuah kelompok diskusi mahasiswa STF Driyarkara yang secara rutin mengadakan pertemuan setiap hari Senin. Beberapa mahasiswa STF hadir dalam acara ini.
Terdapat enam film yang diputar dalam acara ini, yakni tiga film karya Wregas: Lemantun, Lembusura, dan Prenjak serta tiga film pendek pemenang Lomba Video Pendek Dies Natalis ke-49 STF Driyarkara. Turut hadir pula dua pemenang lomba tersebut.


Dalam sesi diskusi, Wregas membagikan proses kreatif yang dijalaninya untuk membuat film. Dalam film-filmnya ia lebih mengedepankan unsur realisme dan true story yang inspirasinya diperoleh dari kehidupan sehari-hari di sekitarnya. Aspek simbolik dan artistik menurutnya kurang dominan di dalam film-film karyanya. Kendati demikian ada juga penonton dan pengamat yang justru menangkap aspek tersebut dan menafsirkannya secara lain dari yang dimaksudkannya.


Wregas juga menceritakan tegangan yang dialaminya berkaitan dengan gaya film, yakni antara ingin membuat film sesuai idealismenya atau mengikuti selera pasar. Tegangan lain yang dialaminya adalah antara mementingkan makna dan pesan film atau menghasilkan film yang artistik dan unik. Ia menyadari bahwa konsumen film di Indonesia cenderung lebih menyukai film populer dengan efek yang spektakuler. Oleh sebab itu, ia yang cenderung menekankan pesan dalam film-filmnya lebih memilih untuk menawarkan filmnya ke luar negeri.


Di akhir diskusi, Wregas menyadari bahwa pembuat film tidak selamanya dapat membuat film hanya demi seni, idealisme pribadi, atau aktualisasi dirinya. Pembuat film memiliki tanggung jawab sosial untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Menurutnya film adalah alat yang sangat efektif untuk mempengaruhi pikiran para penontonnya.


Oleh sebab itu, ia selalu berhasrat memproduksi film-film yang dapat membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Contohnya, dalam film-filmnya ia selalu menunjukkan keberpihakan pada kaum yang tersudut atau tersingkir dari masyarakat. Ini penting mengingat dewasa ini ada beberapa film populer bermuatan ideologi tertentu yang hendak mempengaruhi masyarakat ke arah negatif, seperti menjadi radikal, intoleran, dan terpecah belah.

 

 

 

 

Perpustakaan STF Driyarkara saat ini memiliki kurang lebih 47.509 eksemplar (eks.) bahan pustaka dengan rincian 46.277 eks. buku; 1.171 eks. skripsi; 55 eks. tesis; 6 eks. disertasi; dan 1.681 eks. majalah. 

Pembelajaran Interaktif.STF Driyarkara saat ini memiliki 50 Dosen dengan jenjang pendidikan Magister, Doktor dan Profesor. 

Go to top
Template by JoomlaShine